Susahnya menjaga hati, sedangkan ia adalah pandangan Allah, ia merupakan wadah rebutan antara malaikat dan syetan, masing-masing ingin mengisi, malaikat dengan hidayah, syetan dengan kekufuran.
Susahnya menjaga hati, bila dipuji ia berbunga, terasa luar biasa, bila dicaci aduh sakit nya, pencaci dibenci, bahkan berdendam sampai mati. Bila berilmu atau kaya, sombong mengisi dada, jika miskin atau kurang ilmu, rendah diri pula dengan manusia, adakalanya kecewa, puncaknya putus asa. Takdir yang menimpa susah untuk ridho, ujian yang datang sabar tiada, jiwa menderita.
Susahnya menjaga hati, kelebihan orang lain hati tersiksa, kesusahan orang lain hati menghina, bahkan terhibur pula. Menegur orang suka, ditegur hati luka. Mari kita bermujahadah untuk melawan penyakit hati ( sifat mazmumah ) dan bermujahadah pula untuk menyuburkan sifat mahmudah ( sifat yang baik ) : " Dan mereka yang bermujahadah dalam jalan Kami, niscaya Kami tunjukan jalan-jalan Kami itu, sesungguhnya Allah beserta dengan orang yang berbuat baik." ( QS : Al Ankabut : 69 ).
Sabda Rasulullah SAW :
"Bahwasannya Allah tidak memandang akan rupa dan harta kamu, tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu." ( Riwayat Muslim ).
Susahnya menjaga hati, maka patutlah hati itu dikatakan raja diri, karena hati perasaanya halus, sentuhannya tidak terasa, tapi sangat memberi kesan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar